Sabtu, 09 Februari 2013

Book Review: PETIR by Dee

Posted by le rêveur femme at 03.23
Book Review: Petir by Dee Lestari
 Cast :
1. Elektra
2. Watti
3. Mpret
4. Kewoy

Saya baru selesai baca novel ini sekitar seminggu yang lalu. Awalnya cuma iseng-iseng aja pas jam 11 malam ngga bisa tidur trus nyari bahan bacaan yang asyik. Nemu novel ini, baca-baca bentar, ehh ngga kerasa ternyata kuat baca sampe 50 halaman.  Ini sebenarnya buku ketiga, kalo ngga salah, dari seri Supernova. Kalau yang belum baca buku kesatu dan kedua, gapapa lanjut ke buku yang ketiga karena ceritanya ngga saling bersambung kok. Saya pun demikian. heheheheheh.

Cerita dari novel ini sangatlah unik, bukan cerita roman picisan yang sering banget ada di novel-novel remaja jaman sekarang. Mungkin karena Mba Dee udah bukan remaja kali yak..hehehhe #pisss. Yang saya suka dari gaya mengarang Dee adalah to the point. Ngga perlu mengurai kata-kata panjang dan berlebihan, biasanya kan ada tuh penulis yang suka menggambarkan satu adegan bisa sampe 3 halaman lantaran background tempat dibawa-bawa dan dilambai-lambaikan. Haduhh saya paling ngga suka yang seperti itu. Tapi kalau Dee...tek--tek--tek. Tepat sasaran, ngga ada kata-kata yang mubazir terbuang. Apalagi cerita Petir ini sungguh menakjubkan dan jarang ada yang mengangkat tema seperti ini, sederhana tapi syarat muatan.

Cerita bermula dari Elektra, seorang anak pemilik Wijaya Elektronik. Sepeninggal ayahnya, dia hidup berdua dengan kakaknya, Watti. Antara Elektra dengan Watti, walau adik kakak, tapi ciri-ciri wajah mereka jauh berbeda. Watti lebih unggul soal penampilan. Cantik dan periang. Sedangkan Elektra kebalikannya. Elektra sebenarnya ngga ambil pusing. Dia santai-santai saja menerima "kekalahan" genetik ini. Puncaknya, pas Watti menikah dan harus tinggal dengan suaminya yang kerja di Freeport, Papua. Alhasil Elektra hidup sendirian, sebatang kara. Belum berpenghasilan dan merana. Hidup sehari-hari hanya mengandalkan uang tabungan yang semakin hari semakin miris diliat. Makannya pun kalau ngga mie yaa telor ceplok atau didadar. Lebih sering tidur panjang kalau siang, malam pun paling panjang tidurnya. Kehidupannya serba merana. Apalagi warga-warga di RT-nya ngga ada ngenalin Elektra. Dia benar-benar sebatang kara.

Nah pada suatu hari, dia dapat kiriman surat. Entah darimana berasal. Tiba-tiba dateng aja gitu. Yang mengharuskan dia untuk menjadi Dosen di Sekolah Ilmu Gaib. Syaratnya dia harus melamar pekerjaan tersebut dengan membawa barang-barang klenik yang nantinya dikirim via kuburan. (Untuk ide cerita ini Dee benar-benar gila, outstanding banget) Inilah bagian terlucunya dimana Etra harus mencari barang-barang aneh tersebut, bahkan memutuskan untuk menjalankannya. Etra sepertinya sudah pasrah, karena mungkin di sinilah masa depan dia akan terwujud, walau di Sekolah Ilmu Gaib. 

Namun, pencarian barang-barang klenik tersebut cukup membawa berkah karena Etra akhirnya berkenalan dengan Ibu Sati (Kalau ngga salah). Ibu Sati ini pemilik toko yang menjual barang-barang aneh tersebut. Kebetulan juga Ibu Sati ini jago meditasi. Hal yang sangat dibutuhkan Etra. Nah, apa hubungannya dengan Petir dan Etra??

Etra ini ternyata memiliki kemampuan khusus untuk menghasilkan listrik, teman-teman. Waktu kecil, cuma dia lah satu-satu orang yang keluar saat hujan deras dan akan bergembira sekali bila langit menampakkan petirnya. Etra sangat menyukai petir, bahkan suaranya. Kalau Watti mah udah masuk ke rumah duluan, tutup kuping rapat-rapat, dan ngejerit kalau suara petir menggelegar.

Usut punya usut, setelah mendapat bimbingan dari Ibu Satti, Etra mulai mengontrol kemampuannya. Dia jadi rajin meditasi. Nah berkenaan dengan panggilan Sekolah Ilmu Gaib itu, ternyata itu Fake alias bohong alias penipuan. Etra tau dari Ibu Satti. Padahal Etra udah nyaris percaya kalau itu beneran.hahahah. Untungnya Ibu Satti ngga tau karena Etra emang ngga mau cerita. Takut kelihatan bodoh kali yaa...

Kemudian muncul peran Kewoy dan Mpret. Kewoy ini dulunya asisten pemilik warnet temannya Etra. Ngomong-ngomong soal warnet, Etra yang tadinya nol besar soal beginian mulai diajarin sama temannya yang pemilik warnet. Hampir tiap hari Etra ke warnet cuma buat chattingan. Hidupnya makin ngga keurus. Kemudian dia berpikir untuk buka usaha warnet aja. Nah dari sini dia membutuhkan Kewoy sebagai mediator untuk mencari partner kerja yang tepat. Akhirnya dikenalinlah Etra dengan Mpret.

Mpret ini sudah tersohor kemampuannya dalam soal bisnis warnet. Dia paling tau bagaimana memulai suatu usaha agar berjalan sukses sampe akhir. Mpret pun tertarik dengan rumah Etra yang letaknya sangat strategis dan bersejarah. Mpret pun berani investasi untuk membangun bisnis bersama Etra. Maka jadilah Elektra Pop, sebuah tempat yang mewadahi orang-orang yang ingin berinternet, maen PS, atau nonton film. Komplit. Seketika hidup Etra berubah, lebih berwarna dan tentunya menghasilkan uang. 

Masalahnya adalah saat Etra menyadari kemampuan dirinya atas kandungan listrik yang ada di dala tubuhnya. Etra pun bisa menyembuhkan orang sakit. Mirip tabib-lah. Etra sebenarnya ngga membuka klinik resmi di rumahnya, cuma orang-orang pada berdatangan tanpa diminta ke rumah Etra. Alhasil ruang PS dijadikan praktik kliniknya. Mpret yang juga punya saham di ruang PS merasa keberatan dengan Klinik Etra karena dengan begitu orang-orang yang datang maen PS menjadi berkurang. Etra pun serba salah. Dia pun ngga bisa menyalahkan diri sendiri. Padahal niat Mpret cuma ingin agar Etra tidak terlalu memforsir tenaganya saat menyembuhkan orang. Etra ngga tau, bahkan ngga paham kalau ternyata Mpret naksir sama Etra.

Finally, Elektra Pop masih berjaya, dan Etra pun masih melayani orang-orang yang ingin berobat padanya. Hubungan dia dengan Mpret pun membaik, walau tidak ada ucapan sayang/cinta di keduanya. Selesai.

Kalau saya buat review seperti ini, kesannya simple banget ya. Tapi isi novel ini ngga seringkas review saya.. ya iyalaahh. Banyak proses-proses yang harus dilalui Etra untuk mendapatkan kejayaannya yang sekarang. Dia banyak berkorban dan yang pasti terus mencoba walaupun itu ngga masuk akal. 

0 comments:

Poskan Komentar

 

le Rêveur Femme Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea